Kamis, 03 Agustus 2017

Novel Motivasi Terbaru: Tidur Bersama Hujan Bab 4 Ep 01

Novel Motivasi Terbaru 2017


Kami sedang menunggu bus di perhentian bus yang posisinya disamping Stasiun Mrt Redhill, mereka hanya dipisahkan oleh jalan raya. Bahia dan aku menantikan Bus nomor 249 yang akan bermuara di Queenstown, kediamannya Bahia. Bus nomor 30 kini menghampiri kami dan Danil pun masuk kedalamnya setelah mengucapkan selamat tinggal, menuju tempat kerjanya di Commonwealth sebagai seorang buruh pabrik dengan upah 900 dollar perbulan. Setelah kurang lebih 15 menit menunggu akhirnya Bus yang ditunggu-tunggupun datang.

Bab 4 adalah “Tentang Dia” dari sebuah novel motivasi terbaru Tidur Bersama Hujan. Sebuah novel 2017 yang kaya dengan ilmu filosofi dan sebagai penyemangat jiwa


Ketika masuk ke dalam Bus aku mengekori Bahia dari belakang dan aku tidak melihat Bahia menempelkan kartu ezlink-nya pada mesin pembayaran ataupun memasukan sejumlah koin kedalam tabung pembayaran seandainya tidak memiliki kartu ezlink atau nilainya sudah habis.

Aku tidak lagi merasa heran tentang kebiasaan buruknya, kurasa Bahia sudah terbiasa naik Bus ataupun naik kereta listrik gratis. Aku tertawa di dalam hati dan segala hal yang berhubugan dengannya pasti menghiburkan. Kami mengambil tepat duduk yang posisinya paling belakang dan kebetulan ada tiga tempat duduk yang menganggur. Setelah sepenuhnya bersantai baru aku membuka mulut untuk mengenyahkan kebisuan di antara kami.

“Kira-kira berapa lama sampai?”
“Tak lama lah macam 30 minutes ghitu.”
“Oh. Bahia, kau tak bayar tambang Bus ke?” Tanyaku dengan raut wajah yang menghibur, mengindikasikan bahwa aku sedang bercanda.
“Mana ada aku bayarlah.” Sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum dan tidak lagi mempermasalahkannya. Aku bisa maklum mungkin Bahia sedang tidak punya uang sepeserpun.

Hari Sabtu! Sekolah-sekolah disini libur dan sebagian perusahaan-perusahan disini juga meliburkan pekerja mereka jadi tak heran suasana di dalam agak sepi dari penumpang pada waktu pagi sebegini.

Sepanjang perjalanan, Bahia asyik bercerita tentang teman-temannya yang belum pernah aku temui. Bukan Bahia jika tidak menjelek-jelekkan teman-temanya tapi justeru itu bagian yang paling menghiburkan.

Aku tidak menilainya sebagai perempuan yang bermulut jahat namun aku memandangnya sebagai penghibur yang mampu membuatku tertawa panjang. Sudah pasti dia lebih sesuai menjadi seorang komedian daripada menjadi seorang penyanyi  yang didambakannya.

“Nanti aku kenalkan kau dengan Samira.”
“Samira tu siapa?”
“Kawan akulah, budak-budak henderson tu. Tapi sorry, dia tak termasuk perempuan-perempuan cantik macam kita.”
“Ya lah kau kan Miss World.” Balasku
“Off course darling. What can I say? Miss world since 1992. Samira tu badan dia gemuk macam Mas amber crystal, pakai cermin mata pulak tu. So kau dah boleh gambarkanlah macam mana wajahnya Samira.”
“Tapi aku suka nama dia. Sa-mi-ra, very nice.” Bahia membuang wajahnya sambil memuncungkan mulut sebagai bentuk reaksiku memuji temannya. Melihat ekpresinya, aku pun tertawa.
“Itulah, nama dia orang glamour ghitu. Sa-mi-ra… yang satu lagi Mas- amber- Crystal.. tapi bila tengok orangnya. Mmm tak sesuai langsung dengan nama yang glamour dan cantik. What can I say?” Lagi-lagi kata-katanya memainkan musik dijiwaku. Tak terasa perjalanan kami hampir berakhir. Kami keluar dari bus bersama beberapa penumpang yang lainnya. Dengan cepat Bahia membaur bersama mereka agar tidak ketahuan naik gratis oleh supir bus karena saat keluar bus nanti semua penumpang harus menempelkan kartu ezlink untuk melengkapi transaksi pembayaran.

Blok kediaman Bahia tidak jauh dari Perhentian bus. Mereka hanya dipisahkan oleh lima buah blok saja. Rumah flatnya di lantai dua dan ketika Bahia naik ke atas aku menunggu di bawah tangga. Kurang lebih  lima menit kemudian dirinya muncul sambil menggenggam selembar uang kertas 10 dollar singapura yang berwarna merah.

“Jom kita ke kedai kopi!”
“Tapi aku tak ada duit lah Bahia. Duit..”
“Don’t worry aku belanja kau, okay?”
“Oh thank you” Orang Singapura memang tidak pelit dengan uang. Ucapku di dalam hati.

Kami menelusuri beberapa buah blok dengan udara pagi yang masih terasa segar. Sepanjang perjalanan, Bahia tak habis-habisnya mengupas tentang Amber dan Samira yang merupakan musuhnya karena aku sudah bosan dengan topik itu akhirnya kutukar tema pembicaraan kami mengenai jual-beli rumah di Singapura.

“Yang tadi itu, rumah kau ke?”
“Yes, that’s my house but not totally mine lah.”
“What do you mean?” Tanyaku.
“Rumah itu under two names. Nama adik perempuan aku dengan nama aku.”
“So kau tinggal berdua ja.”
“Tak, kita orang bertiga dengan mak aku. Rumah itu sekejap1 lagi nak di jual tau. Kalau dah jual duit itu kita orang bagi dua.”
“kalau dijual harga dia berapa?”
“Kira-kira 150 ribu dollar ghitu. So aku dapat 75 ribu lah.”
“Wow kaya syeh. Kau nak buat apa dengan duit sebanyak  itu?”
“Off course Miss world nak mempercantikan diri and then Miss world nak upgrade my education tak macam budak-budak henderson itu ehk yang semuanya uneducated. “O” level2 aja dia orang tak punya. Sorry aku tak pandang orang-orang macam mereka yang tak ada class ghitu.”

Entah kenapa aku justru tertawa mendengar kata-kata Bahia. Aku tidak memandang kata-kata itu sebagai hinaan tapi aku lebih menilainya sebagai hal yang lucu. Bahia memang selalu membuat aku tertawa tanpa aku bisa menghentikannya.

  1. sekejap = sebentar
  2. O level = setingkat kelas 3 SMA

Pada waktu pagi sebegini Kedai kopi lagi dipenuhi oleh banyak pengunjung. Ada tiga warung yang menjual makanan cina, 2 warung yang menjual makanan India muslim dan 1 warung yang menjual makanan Melayu seperti nasi lemak, nasi ayam dan nasi ayam penyet. Semua kedai kopi di Singapura adalah self-service artinya kita harus memesan sendiri tanpa dilayani oleh pelayan. Kami duduk dekat dengan warung makanan Melayu dan koperku ditaruh disamping.

“Kau nak makan apa Miu?” Tanya Bahia.
“Nasi ayam aja lah”
“Minum?”
“Teh tarik”

Aku memang penggemar berat dengan teh tarik yang rasanya agak kelat tapi lemak-lemak manis. Kelat itu yang membuat rasanya tidak jenuh dilidah. Sementara Bahia memesan nasi lemak dan minumannya air kaleng rasa kacang soya. Menurutnya minuman itu sangat bagus untuk kulit dan salah satu resep awet mudanya.

Kedai kopi di Singapura memang tidak pernah sepi dari pengunjung bahkan beberapa kedai kopi di sini beroperasi selama 24 jam tanpa tutup. Orang Singapura hobinya adalah makan jadi tak heran jika warung-warung makan atau restoran-restoran tumbuh menjamur di seantaro kota.

Keitka di kampung halamanku sangat sulit menemukan orang yang makan sambil berjalan tapi tidak di Kota ini. Pejalan kaki yang sambil menyuap makanan dimulutnya sudah menjadi pemandangan yang biasa dilihat di merata jalan. Jadi bukan sesuatu yang berlebihan jika aku berangapan bahwa orang Singapura itu hobinya adalah makan. Sesuatu yang paling menghiburkan.

Lihat saja Bahia meskipun tubuhnya kecil namun makannya sangat kuat. Ketika nasi ayamku masih separuh, nasi lemaknya sudah selesai dilahap.

 Dia kembali ke warung yang menjual kue tradisonal melayu. Membeli tiga keping epok-epok yaitu sejenis kue yang berintikan daging ayam atau daging sapi. Dia menawarkannya kepadaku namun kutolak karena nasi ayam yang masih kunikmati sekarang ini belum tentu berhasil dihabiskan.

“Miu, malam ini kau nak pergi club night tak?” Sambil mengunyah epok-epoknya.
“Club?” Keningku berkerut mengindikasikan kepadanya bahwa kata itu masih asing ditelingaku.
“Yes, club night. Kau belum pernah kesana ke?”
“Belum” Sambil kugeleng kepala. Mata komedian itu tersenyum. Mungkin dirinya sedang menertawai sifat kampunganku.
“Hmmm kesiannya… tak apa, malam ini kita pergi club night bersama Danil okay? Habis itu Miss world nak kenalkan kau dengan lelaki-lelaki handsome, mesti kau suka.”
“Okay, sound great.” Dengan nada suaraku yang datar.

Kata-kata Bahia yang terlalu vulgar membuat aku geli. Dalam waktu yang sama aku juga sedikit nervous karena club adalah sesuatu yang masih sangat baru bagiku. Setiap pengalaman pertama pasti membikin jantung ini berdetak tak seperti biasanya.

“Miu, kau termenung kan apa?”

Suara Bahia yang lumayan nyaring mampu melayangkan pikiran-pikiran negatifku tentang dunia club yang sampai sekarang kupercayai sesuatu yang kurang baik.

“Kau nervous ke pasal club?” Kembali dia bertanya dalam keadaanku yang sudah sepenuhnya sadar.
“Yeah, a little bit.” Kupertemukan gigi bawah dan atas.
“Don’t think too much okay. Just make your life easier. It’s okay to be happy and having fun.”
“Okay, aku akan cuba meskipun aku tak seberapa suka.”

Sifat keingintahuanku mengalahkan prinsip hidup ini. Akhir-akhir ini hidupku memang dipenuhi dengan hal-hal baru yang menantang dan club adalah sesuatu yang sangat menantang bagiku. Akhirnya kuterima ajakannya pergi ke club malam ini lagipun itu adalah satu-satunya alasan yang boleh menghindarkanku dari tidur sendirian bersama hujan.


Bersambung … … …

Kunjungi situs resmi kami Tidur Bersama Hujan. Baca reviewnya tentang apa yang dikatakan oleh pembaca tentang novel motivasi terbaru ini serta kamu juga bisa mendownload previewnya dan membeli novel ini untuk dijadikan koleksi di gadget favoritmu; Tablet – Smart phone – PC >>> Visit situs resmi kami >>> “TIDUR BERSAMA HUJAN


0 comments

Posting Komentar

Be To Inspire At Least One Person.